Barangkali “curhat” sering menjadi solusi
yang paling sering dipilih oleh kebanyakan orang saat menghadapi masalah
seperti yang kuhadapi beberapa bulan yang lalu.
Namun entah mengapa untuk masalah yang
kuhadapi ini belum terlintas di otakku untuk berbagi cerita melepas penat hati
ataupun sekedar meminta saran pada orang lain.
Bukan karena tak mau, tapi ku tak tahu
harus mulai darimana dan bagaimana caraku menceritakannya. (kedengarannya agak aneh
memang, hehe :P).
Hingga ditengah lamunanku tiba-tiba aku
tersadar “kenapa mesti curhat sama orang lain? Ada Allah yang siap mendengar
keluh kesahmu Lun.. ada Allah tempatmu bersandar dan mengadu..!!”.
Segera ku beranjak dari tempat tidurku dan
ku basahi wajahku dengan basuhan air wudhu, bersimpuh dihadapanNya,
menengadahkan kedua tangan, meminta ampunan dan petunjuk atas gejolak hati yang
tengah ku alami.
Hatiku menjadi sedikit lebih tentram
setelah ku curhatkan semua perkara yang tengah ku hadapi.
Maha suci Allah, Yang Maha Memberi
Ketenangan.
Awalnya sulit bagiku tuk menerima dan
memahami hal yang baru saja dialami oleh hati malangku ini.
Mungkin karena aku tak pernah berada di
posisi yang seperti ini, atau mungkin karena egoku yang terlampau tinggi
sehingga memaksaku untuk tetap mempertahankan kisah cinta yang hanya mampu
bertahan tak lebih dari 144 jam ini.
Alasannya? Alasannya tak perlu ku ceritakan disini.
Alasannya? Alasannya tak perlu ku ceritakan disini.
Hatiku remuk redam, tubuhku mendadak
terasa limbung saat ku dengar suaramu di ujung telepon yang mencoba tuk
menjelaskan gejolak hati yang tengah kau alami padaku, pada kisah cinta kita.
Tak bisa ku bohongi hati malangku bahwa
alasan itu memang membuatku terjerembab dalam keterpurukan yang akhirnya
mengimbas pada kelemahan jiwa dan pemikiranku.
Namun ku coba tuk tetap tegar mendengar
semua gejolak pedih hatimu, meski sesekali ku gerakkan tanganku untuk mengusap
air mata yang jatuh di pipi karena tak kuasa lagi tuk ku bendung.
Sempat ku menentang dengan semua ini, namun pada akhirnya aku mengalah pada ego dan cintaku.
Sempat ku menentang dengan semua ini, namun pada akhirnya aku mengalah pada ego dan cintaku.
Aku mencoba tuk sok tegar, setengah ikhlas,
dan mencoba tetap menyunggingkan senyuman palsuku seolah-olah kisah miris ini
tak pernah terjadi padaku, karena ku tak mau menambah beban hatimu dengan
amarahku.
Aku pun mencari tahu mengapa gejolak hati
yang bukan tuk pertama kalinya kau alami itu bisa kau alami, bahkan kau sendiri
pun tak paham penyebabnya.
Dalam sujud ku panjatkan do’a, meminta
ketenangan hati dan petunjuk atas apa yang kau alami, berharap ku bisa
menemukan satu jawaban pasti di penghujung malamku sehingga aku bisa terlepas
dari keterpurukan hati ini.
Segera saja terngiang-ngiang di telingaku
bunyi sebuah hadist tentang do’a Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam yang
sudah cukup sering kudengar sehingga kudoktrinkan dalam hidupku,
“Ya Allah, tiada kemudahan
kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau menjadikan yang sulit sebagai
hal yang mudah, jika Engkau menghendaki.”
Aku pun yakin semua ini pasti ada
jawabannya! Ya, pasti ada jawabannya!
Ternyata, do’a yang senantiasa kulantunkan,
juga do’amu disana, menuai hasil. Ku temukan jawaban di akhir sholatku di
sepertiga malam.
“Ini adalah bentuk penjagaan Allah
terhadapmu”, itu jawabannya.
Segera ku kabarkan hal ini padamu, dan
akhirnya kau pun juga mengerti atas apa yang kau alami.
Sekarang aku tak lagi sok tegar, atau
setengah ikhlas, atau bahkan mencoba menyunggingkan senyum palsu lagi, bukan
karena amarah yang coba tuk ku pendam, tapi karena kini aku benar-benar tegar
dan ikhlas.
Aku sadar, Allah akan menjaga hambaNya yang
juga menjagaNya, dan itu Allah tunjukkan padamu, karena kau mampu menjaga
sholat fardhu dan sholat sunnahmu, mengamalkan puasa senin kamis, dan dhuha di
awal harimu yang insyaa allah akan tetap terjaga hingga akhir hayatmu.
Semoga kau tetap istiqamah!
Allah menjagamu dari sisi yang tak kau
sadari, Allah melindungimu dari hal-hal yang bisa membuatmu tak mampu
menjagaNya, salah satunya dengan membuatmu merasakan gejolak hati yang kini ku
sebut dengan hidayah ini.
Terima kasih ya Allah karena Engkau telah
menjaganya.
Terima kasih karena Engkau telah membuatku
terlepas dari keterpurukan tanpa alasan, dari sikap naif, dan dari perasaan
menjadi orang termalang dunia yang sempat membuatku terbelenggu pada sergapan
emosi bahkan hampir kehilangan akal sehat.
Terima kasih pula karena Engkau mampu memberiku hati yang mampu memaafkan, hati yang mampu mengambil ibrah dari apa yang ku alami.
Kini, apa yang ku alami telah ku sketsakan menjadi inspirasi untuk menggapai kebahagiaan, karena kebahagiaan memang harus kita ciptakan.
Jika kita membiarkan hidup kita senantiasa diwarnai tragedi keterpurukan, maka selamanya air mata akan membasahi pipi dan kita akan kehilangan sebuah kesempatan besar untuk mencecap indahnya warna-warni dunia ini.
Hanya untuk masalah ‘sekecil’ itu, aku harus mengucurkan begitu banyak air mata. Aduuuh, betapa malunya aku..
Terima kasih pula karena Engkau mampu memberiku hati yang mampu memaafkan, hati yang mampu mengambil ibrah dari apa yang ku alami.
Kini, apa yang ku alami telah ku sketsakan menjadi inspirasi untuk menggapai kebahagiaan, karena kebahagiaan memang harus kita ciptakan.
Jika kita membiarkan hidup kita senantiasa diwarnai tragedi keterpurukan, maka selamanya air mata akan membasahi pipi dan kita akan kehilangan sebuah kesempatan besar untuk mencecap indahnya warna-warni dunia ini.
Hanya untuk masalah ‘sekecil’ itu, aku harus mengucurkan begitu banyak air mata. Aduuuh, betapa malunya aku..
Kini, aku senantiasa berharap..
Masih akan ada pelangi yang melengkung di langit biru.
Aku tak akan putus harap menantimu..
Masih akan ada pelangi yang melengkung di langit biru.
Aku tak akan putus harap menantimu..
untukmu A_I_A
Oh iya, masih ingat foto dibawah
ini? hehe :P
thanks yah..
thanks yah..
tulisannya bagus (y)
(100% asli tanpa winto) :)
(100% asli tanpa winto) :)
FNA
.jpg)
